Tuesday, April 5, 2011

Siswa Malas Belajar Kenapa ??

Siswa Malas Belajar Kenapa ??

""""Ada pepatah dulu ,atau ingat waktu kita masih duduk di sekolah dasar di sepanjang koridor kelas selalu terpampang pepatah " Rajin pangkal pandai,malas pangkal bodoh tentunya pepatah ini masih sangat relevan untuk saat ini dan mungkin untuk sampai kapanpun.Dan inilah yang sebagai guru selalu kita pegang teguh,sehingga kita menekankan kepada siswa bahwa setiap siswa kalu mau pinyar ya harus belajar """"

Hal yang mungkin akan sikap kita adalah membenarkan atau tidak membantah "pepatah "tersebut. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri ada saat dimana seorang siswa mengalami kemalasan walaupun sebenarnya dia tahu bahwa diaharus rajin belajar mengingat semakin beratnya bobot kurikulum yang dia tempuh.


Kemalasan akibat banyak faktor.

Kemalasan siswa belajar atau sekolah disebabkan oleh banayak faktor.Ada yang disebabkan oleh liburan yang berkepanjangan,suasana sekolah,pribadi guru,cara penyampaian mata ajaran hingga suasana hati siswa itu sendiri.Ironis memang dimana siswa butuh tempat yang memadai untuk belajar agar suasana belajar menjadi kondusif,namun kalo melihat keadaan rumahnya yang hanya 3 x 3 meter dimana didalam rumahnya sudah sumpek dan ruwet hingga suasana yang diharapkan tidak mungkin mendukung..
Sebagai seorang guru dan orang tua bagi siswa kita berkewajiban mencari tahu apa yang sebenarnya sedang dialami oleh siswa.
Memang hal ini memerlukan kerja tambahan bagi kita selaku guru akan tetapi ini akan sangat berguna bagi siswa dan masa depannya.
Dan tentunya cara mengatasi kemalasan tersebut berbeda - beda tergantung penyebab sebenarnya dari kemalasan tersebut,hal ini akan sanagt efektif mengatasi kemalasan tersebut.

Menemukan Cara Memotivasi Siswa

Pada tahun ajaran baru, beberapa sekolah dasar menerima murid-murid baru yang berasal dari bermacam-macam TK dan bermacam-macam kebiasaan di rumah yang selalu terbawa di sekolah. Pada masa ini, kebiasaan-kebiasaan, seperti bermain, mewarnai, dan menebalkan sangat sulit untuk langsung diubah ke tingkat membaca, dikte, menghitung, menulis, dan menghafal. Perubahan tersebut tentu memerlukan waktu. Berapa lamakah waktu yang harus dihabiskan? Jawabnya maksimal 2 bulan, kebiasaan-kebiasaan dari TK harus segera dikembangkan pada kemampuan membaca, menghitung, dan menghafal, karena semakin lama siswa menyesuaikan diri dalam kegiatan belajar mengajar, maka semakin tertinggal dia dalam memahami pelajaran tersebut dan semakin malas dia untuk mengikuti pelajaran.

Beberapa murid ada yang sangat memerlukan motivasi untuk dapat mengikuti pelajaran, karena masih kurangnya kesadaran dalam arti pentingnya belajar. Untuk menjawab persoalan tersebut, tentu memerlukan beberapa metode mengajar yang harus digunakan oleh guru, untuk menyeimbangkan antara anak yang telah mampu mengikuti pelajaran dan perlu perhatian dalam belajar. Dalam pelaksanaannya penggunaan beberapa metode dalam sebuah kegiatan belajar mengajar tidak 100 % berhasil dalam mengatasi persoalan tersebut. Metode-metode tersebut biasanya bertahan pada saat penjelasan materi yang akan disampaikan, namun setelah kegiatan berpindah pada kegiatan pengaplikasian hasil dari apa yang telah diperhatikan dari penjelasan guru, terkadang hasil yang diinginkan tidak maksimal dan diperparah dengan keengganan atau munculnya rasa malas murid untuk menuliskan atau melakukan apa yang guru inginkan.Â

Motivasi terbagi atas dua macam, motivasi dari dalam dan motivasi dari luar. Motivasi dari dalam muncul bila ada pemahaman si anak tentang tujuan dari apa yang akan dicapainya atau sebuah bentuk kesadaran yang timbul dari si anak itu sendiri. Biasanya motivasi ini akan bersifat kekal selama tujuan itu belum tercapai. Sedangkan motivasi dari luar muncul bila ada pancingan dari luar anak untuk melakukan apa yang diinginkan oleh si “pemancing”. Biasanya motivasi ini tidak bertahan lama, bila umpan-umpan untuk memotivasi masih menarik, maka kegiatan masih tetap berjalan, namun tidak selamanya seorang guru mampu terus mengumpan anak untuk dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itulah meskipun telah digunakan beberapa metode dalam mengajar masih ada anak yang belum mampu mengikuti dengan maksimal pelajaran. Dari kedua motivasi di atas, maka motivasi dari dalam diri siswalah yang perlu dikedepankan.

Dalam beberapa kesempatan saya mencoba beberapa cara untuk memotivasi siswa saya kelas 1 SD, meskipun belum maksimal meningkatkan motivasi siswa, alhamdulillah telah mampu membantu atau meningkatkan motivasi siswa ketika mengalami kejenuhan dalam melakukan tugasnya. Langka-langkah tersebut diantaranya

1.     Menemukan cita-cita anak

Dalam kelas buatlah sebuah tempat untuk anak menuliskan cita-citanya. Agar mudah untuk diperhatikan oleh anak, maka buatlah tempat itu menarik dan terletak pada tempat yang strategis dapat dilihat. Setelah anak-anak diberi kesempatan untuk menuliskan cita-citanya, guru akan mudah untuk mengajak feeling anak pada arti pentingnya belajar. Kegiatan ini dapat dilakukan sebelum memulai kegiatan belajar mengajar. Setelah membaca doa sebelum belajar guru dapat mengajak siswa berkomunikasi tentang cita-cita yang dipilih oleh siswa, dengan harapan si anak sebelum mengikuti kegiatan belajar mengajar motivasi instrinsik telah tertanam pada si anak. Dan pada saat siswa menglami titik jenuh yang tinggi.Â

Sebagai contoh, bila salah seorang anak yang memerlukan perhatian, memilih menjadi seorang dokter. Guru dapat mengatakan kepadanya. “kamu benar-benar ingin menjadi dokter, kamu tahu dokter itu bagaimana. Seorang dokter harus bisa memutuskan sesuatu tanpa bantuan orang lain, karena bila pada suatu ketika tidak ada orang yang memerlukan bantuannya, sedangkan tidak ada seorangpun yang ada pada saat itu. tentu si pasien terbengkalai dan semakin parah sakitnya”. Contoh lain, bila seorang anak bercita-cita ingin menjadi pilot. Guru dapat mengatakan kepadanya. “ seorang pilot itu pintar berhitung, dia tidak setiap saat bertanya untuk memperhitungkan, kapan pesawat akan menghindari gunung, berapa kecepatan yang ideal digunakan dan kapan untuk lepas landas, karena keselamatan penumpang ada pada kesiapan si pilot, bila setiap akan melakukan sesuatu dia bertanya, tentu pesawat tersebut dalam keadaan bahaya”.

Pada suatu hari ada salah satu siswa saya yang mengalami tingkat kejenuhan dan kemalasan yang sangat tinggi, tugas yang saya minta untuk dikerjakannya belum satu ia tulis. Sayapun mendekatinya, dan berkata, “Royhan mau menjadi tentara besar nanti”, dia menjawab “Iya pak guru”, sayapun berkata “kok tentara malas nulis, tentara itu selalu semangat, selalu disiplin, tidak ada rasa malas sedikitpun, kalau seorang tentara selalu malas-malasan pada saat perang tentu dia akan cepat ditembak oleh musuh, dan bila Royhan malas-malasan seperti ini tidak akan mungkin bisa jadi tentara, mau menjadi tentara ada tes lo, harus bisa baca, bisa menulis, bisa berhitung dan masih banyak lagi”. Setelah ia mendengar sugesti yang saya sampaikan diapun dapat menyelesaikan tugas tersebut.

2.Bercerita


Cerita adalah sebuah bagian yang mulai terlupakan pada kegiatan belajar mengajar, selain padatnya

materi yang harus disampaikan dan kurangnya penguasaan guru dalam bercerita adalah penyebab tidak digunakan lagi metode ini untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Bercerita adalah sebuah metode yang sangat menarik bagi siswa SD, karena melalui cerita guru dapat memasukkan pesan-pesan yang dapat mengobati sakitnya motivasi siswa. Cerita tentang seorang anak penjual koran yang belajar sambil berjualan, tentang anak yang malas belajar, dan masih banyak lagi bentuk-bentuk cerita bermakna yang dapat kita sampaikan. Tentu timbul pertanyaan. Bagaimana mau meluangkan waktu untuk cerita, waktu untuk mengajarpun sangat sedikit?. Apakah anak akan menerima semua pelajaran bila kondisi anak tidak mau menerima pelajaran tersebut?. pertanyaan ini yang sering terlupakan oleh para guru, sering guru hanya mementingkan program pengajaran telah tercapai, kemampuan penguasaan siswa terabaikan. Alangkah baiknya meskipun waktu belajar terpakai sedikit untuk bercerita, namun anak mampu mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik. Untuk merubah fenomena tersebut tentu sangat dipengaruhi oleh sifat profesional guru tersebut.



Asaku,Masa Depanmu

Terkadang sulit untuk menerapkan apa yang kita bayangkan. Satu sisi kita terobsesi untuk tercapainya maksud kita, disisi lain banyak faktor yang menjadikan sesuatu tidak dapat terwujud dengan sempurna. Tetapi, asal kita yakin akan kebesaranNya, InsyaAllah semua pasti ada jalan.

Tak banyak asa yang kugantung dianganku waktu itu. Profesional hanya itu. Kata yang pendek tetapi cukup dalam artinya dan membutuhkan energi dan kemampuan bersinergi dengan lingkungan yang kuhadapi. Begitu semangatnya aku, sebagai guru yang datang dari lingkungan yang lengkap sarana dan semua bisa diusahakan. Ternyata, asaku untuk sementara harus kugantung lebih tinggi dan haras pelen-pelan kuturunkan. Kenapa?

Pertanyaan yang tidak gampang untuk dijawab. Dengan kondisi intake siswa, sarana yang tidak mendukung, membuatku sedikit terpenta, terhenyak. Apa solusi yang harus kuambil dengan tepat dan cepat.

Berbagai metode mengajar telah kuterapkan dan berbagai model peraga telah kucoba, akhirnya, kondisi siswaku yang pasif, tidak ada mental untuk berbuat dan

kondisi tubuh yang lelah sehabis membantu orang tua bekerja sorenya, maka aku sebagai orang dewasa harus memahami apa keinginan anak-anakku, siswa-siswaku.

Setiap belajar selalu kuselingi dengan sikap menjamah hati siswaku dengan cara memberi peluang untuk bertanya dan senjata utama adalah selaan kecil/ humor yang sifatnya membangun dan membuat suasana belajar tidak terlalu tegang.

Dan yang terpenting tatap muka kuperbanyak diluar ruangan, kadang dipendopo, dihalaman sekolah yang rada-rada becek, dilantai, pokoknya prinsipku anak belajar menemukan sendiri walaupun awalnya agak aneh dimata mereka. Karena pada dasarnya mereka butuh hiburan.

Walau baru 1,5 tahun aku bergabung dengan lembaga pendidikanku, Alhamdulilah, predikat favorit mulai lengket dalam langkah keseharianku. Aku bertekad anak dusun harus sama dengan anak kota masalah prestasi akademik maupun non akademik.

Karena kita lihat kesehariaanya, berhasilnya manusia bukan dinilai dari berhasil diakedemiknya saja dengan nilai raport yang bagus, tetapi yang terpenting adalah sikap/moral yang berabah menjadi lebih baik setelah dia menerima ilmu tersebut.

Salah satu cara memperoleh hasil adalah dengan percaya dengan proses. Aku berusaha untuk mengantar siswaku percaya dengan kemampuannya masing-masing. Kutanamkan, orang akan menghargai kita untuk waktu yang lama apabila kita bersikap dan berbuat baik, walau sekecil apapun, apalagi itu bermafaat bagi orang lain.

Mata pelajaran yang kupegang adalah Geografi. Bayangkan, jika di kota aku dengan mudahnya memutar mutar Globe dan memaparkan Peta segala macam Peta, yah, karena bendanya ada, tapi apa mau dinyana, model bola yang dilukispun jadi

sebagai gantinya dan peta usang cukup membantu. ha...ha...ha… lagi-lagi aku harus

bijak menyikapi kondisi.

Tapi, apa yang kudapat diluar dugaan, dari materi Peta dan Lingkungan Hidup aku mendapatkan bakat-bakat luar biasa. Aku mendapatkan siswa yang berbakat dibidang lukis, Alhamdulillah, sambil menyelam minum sekalian. Di sana

mereka biasa menuangkan apa keinginannya selama ini yang mereka tuangkan di karton, kanvas( dari terigu tentunya).

Hasil akhir untuk menghargai kerjanya, mereka huhadiahi dengan buku-buku tentang lingkungan yang ada hubungannya dengan daerah mereke, dan dapat dipraktekkan dikehidupan sehari-hari.

Berawal dari kegiatan belajar mengajar itulah, dasar orang seni, mulailah sedikit demi sedikit aku menggerakkan pikiranku. Aku mulai dari kegiatan sore hari bagi yang berminat saja, tidak apa, toh mereka sudah datang saja aku bersyukur dan waktunya kucari sesuai dengan kondisi kebutuhan mereka.

Pelan tapi pasti hasil mulai kuperoleh, ternyata bermain sambil belajar itu lebih dapat hasil daripada belajar sambil bermain. Karena didalam bermain itu mereka merasa suka dulu setelah suka akhimya mereka merasa butuh, dan setelah butuh akhirnya menjadi sesuatu yang harus.

Siswa yang mengikuti berbagai ekstra kurikuler temyata hasil akhirnya tidak sebegitu parah amat dibandingkan dengan yang tidak mengikuti sama sekali. Disini malah ada beberapa hal sekaligus yang dia peroleh. Katakan saja nilai disiplin, ketrampilan, dan tentunya motivasi untuk belajar lebih baik dan menghargai orang lain.

Dari semula kegiataannya hanya 2 kegiatan yakni drumband dan MC, sekarang kegiatanku tidak bisa kupegang sendiri. Temam-teman yang se ide dan gampang untuk bekerja kuajak untuk membantu melatih.

Mulai dari tari, teater, musikalisasi puisi, nasyid, hadrah, bahkan paduan suara. Aku patut bersyukur mempunyai banyak teman yang mau membaktikan ketampilannya untuk keberhasilan masa depan siswa-siswi kami. Jika diukur dengan mated kita tidak akan sanggup untuk menghitungnya, tapi kami sadar Ridho Allah yang kami butuhkan sebagai tolak keberhasilan kami.

Aku maksudku kami, sebagai guru tidak akan pernah kaya secara mated, tapi kami kaya akan had. Kami hanya mampu membangun Aasa, Melakoni dan ujungnya, bermanfaat bagi anak didik kami.

Tidak semua manusia sanggup menembus batas kemalasan yang ada pada did kita, jika memang kita lemah diakademik, kita harus sabar masih banyak cara untuk menggugah dan mengusir kemalasan tersebut. Jika kita sudah dipandang orang lain berhasil dan baik pada bidang tertentu, InsyaAllah itu akan menambah percaya did kita apalagi siswa yang memang jauh dari sempurna, untuk bisa belajar dengan lebih baik dibidang akademiknya. Semoga siswa kami yang lain cepat tergugah akan manfaat kita bekerja sama dan saling berbagi untuk tujuan yang positif.

Tapi aku tidak puas begitu saja. Prestasi demi prestasi telah kai peroleh mulai dad kecematan, kabupaten bahkan ada beberapa diantaranya telah kami kirim untuk ikut lomba. Menang bukan menjadi syarat, tapi pengalaman berbuat itu yang harus tetap dihembuskan.

Bahkan diakhir-akhir tahun ajaran, kami jadi sorotan yang positif dad kalangan pengguna jasa kami dan siswa-siswi kami tentunya. Kami sedang giat mempersiapkan did untuk menghadapi berbagai event tapi aku dan teman-teman tetap menomorsatukan akademik, diwaktu yang senggang dan sedikit inilah kita harus kerja keras dan cerdas. Siswaku harus berprestasi tapi juga harus naik kelas dan lulus dengan sempurna.

Tiada lagi kata yang sanggup kuucapkan, selain berjuanglah untuk keberhasilan dirimu sendiri. Tiada peran orang lain yang berarti jika tidak diimbangi dengan kemauan dan kemampuan did sendiri.

‘’Telah kubangun Asaku, sambutlah masa depanmu’’***

Artikel Terkait:

0 comments:

Post a Comment