Friday, February 11, 2011

ILUMINASI

ILUMINASI

A. Ajaran tentang Iluminasi

1. Ajaran tentang ilumunasi

Pertama-tama dapat disebut pendapatnya tentang pengenalan. Dalam masa mudanya ia bergumul dengan problem-problem yang menyangkut skeptisisme. Tetapi akhirnya ia berkeyakinan bahwa skeptisme tidak tahan uji. Jika saya saya menyangsikan segala sesuatu, memang ada kebenaran-kebenaran yang teguh. Menurut Agustinus, hal itu mungkin karena kita mengambil bagian dalam rasio ilahi. Dalam rasio ilahi terdapat “kebenaran abadi” kebenaran – kebenaran mutlak tak teruntuhkan. Rasio ilahi itu menerangi rasio insani. Allah adalah guru batiniah yang bertempat tinggal dalam batin kita dan menerangi roh manusiawi dengan kebenaran-Nya. Itulah pendirian Agustinus yang biasanya disebut ajaran iluminasi atau penerangan.

2. Dunia Jasmani

Dunia jasmani mengalami pertembangan terus – menerus, tetapi seluruh perkembangan itu tergantung pada Allah. Mula–mula Allah menciptakan suatu materi yang mempunyai bentuk tertentu, tetapi didalamnya terdapat “Rasiones Seminales” (artinya; benih – benih). Maksudnya ialah prinsip – prinsip aktif darimana berkembanganya semua makhluk jasmani. Agustinus mengambil titik ajaran ini dari mazhab ston. Kalau ditanyakan apakh Agustinus disini menganut semacam teori evolusi, harus dijawab bahwa ia memang mengakui adanya perkembangan dalam dunia jasmani. Dengan teori ini Agustinus berpikir dapat memecahkan beberapa kesulitan tentang penciptaan yang timbul jika membaca Al-Kitab.

3. Manusia

Agustinus pasti dipengaruhi oleh Platonisme. Ia tidak menerima dualisme ekstrem Plato tentang manusia (jiwa terkurung dalam tubuh). Tetapi tubuh (materi) tidak merupakan sumber kejahatan. Satu–satunya kejahatan adalah dosa yang berasal dari kehendak bebas, lagi hukuman untuk dosa. Agustinus tidak pernah mengatasi keragu-raguan tentang masalah asal – usul jiwa manusiawi. Satu kali ia berkecenderungan kepada pikiran bahwa jiwa langsung diciptakan oleh Tuhan pada saat konsepsi. Ia mengatakan bahwa jiwa anak berasal dari jiwa orangtuanya. Dengan pendapat terakhir ini menjadi lebih gampang untuk mengartikan adanya dosa asal, yaitu bersama dengan jiwa dosa diserahkan juga.

Pada akhir ini bahwa Agustinus termasuk pemikir termasyhur dalam sejarah agama Kristen, sampai dalam abad 13 (selama hampir 800 tahun). Dan jika pada abad 13 Aristoteles ditemukan kembali itu tidak berarti bahwa Agustinus dilupakan. Ia dianggap sebagai guru utama selama seluruh abad pertengahan. Dan dengan melampaui abad pertengahan, pengarauhnya masih berlangsung terus sampai pada hari ini.

B. Akal dan hati pada abad pertengahan

1. Agustinus

Agustinus lahir di Tagasta, Numidia (sekarang Algeri), pada 13 november 354. ayahnya, Patricus adalah seorang pejabat pada kekaisaran romawi yang tetap kafir sampai kematiannya pada tahun 370. ibunya Monica (Monnico) adalah penganut Kristen yang amat taat. Dalam bahasa latin Agustinus dikenal dengan nama Aurelius Augustinus.

Ajaran Augustinus dapat dikatakan berpusat pada dua pool: Tuhan dan Manusia. Akan tetapi dapat juga dikatakan bahwa seluruh ajaran augustinus berpusat kepada Tuhan. Kesimpulan terakhir dapat diambil karena ia mengatakan bahwa ia hanya ingin mengenal Tuhan dan roh, tidak lebih dari itu (Encyclopedia America, 2:686). Ia yakin bahwa pemikiran dapat mengenal kebenaran, karena itu ia menolak skeptisisme. Ia mengatakan bahwa setiap pengertian tentang kemungkinan pasti mengandung kesungguhan. Bila orang menganggap bahwa didalam doktrin itu ada kebenaran.

Setelah ia yakin bahwa ia ada. Setelah ia yakin bahwa ia mampu mengenal Tuhan, maka mulailah ia mempelajari Tuhan. Bagaimana kita dapat tahu tentang Tuhan? Demikian ia bertanya, menurut Augustinus dalam kita mencari kebenaran, keindahan, kebaikan, kita sebenarnya dibimbing oleh konsep kebenaran, keindahan dan ada kebaikan yang absolute ini uang mutlak, menjadi satu dengan eksistensi Tuhan (Mayer, 357).

Maksud argument ini ialah bahwa banyak kebenaran tentang banyak kebenaran tentang indah, banyak kebenaran tentan baik, menghadapi keadaan ini manusia didesak pada harus adanya kebenaran yang absolute serta abadi itulah Tuhan. Jadi, ada semacam desakan kebutuhan yang ada didalam manusia, kebutuhan yang ada didalam manusia. Kebutuhan pada ukuran absolute tertinggi tatkala ia hadapkan pada keanekaragaman objek. Jadi, kesimpulan diatas tentang argumentasi ini salah kerelatifan mendesak adanya kemutlakan, keanekaragaman mendesak adanya keesaan yang pasti, dan menurut Augustinus, keesaaan itu adalah Tuhan. Jadi Tuhan itu ditemukan dengan rasa bukan dengan proses pemikiran.

Menurut Augustinus memerlukan pencipta dan pengatur ia sependapat dengan Platinus yang mengatakan bahwa Tuhan itu diatas segala jenis (categories). Sifat Tuhan yang paling penting ialah kekal, bijaksana, maha kuasa, tidak terbatas, maha tahu, maha sempurna dan tidak dapat diubah. Tuhan adalah suatu kebenaran yang abadi, Augustinus mempunyai tiga kegiatan pokok: pertama mengingat, kedua mengerti dan ketiga mau. Oleh karena itu jiwa memiliki atau menggambarkan ketritunggalan alam (The cosmic trinity). Agustinus tidak menerima pandangan yang mengatakan ada dunia jiwa atau roh. Ini adalah pandangan Neo-Platonisme, menurut Augustinus, bahwa jiwa yang tunggal dan individual. Dikatakan tunggal karena jiwa ada pada badan, badan itu tunggal.

Mengenai penciptaan jiwa menurut Augustinus jiwa itu diciptakan bukan memancar (emanasi) seperti pada teori platonus. Penemapatan didalan badan bukan hasil atau akibat kejatuhannya, melainkan memang kewajaran atau nalurinya jiwa itu bertempatan dalam badan jasmani. Jiwa tidak ada tanpa badan, demikian pendapatnya. Akan tetapi, jiwa tidak tergantung pada badan, jiwa lebih tinggi daripada badan. Dengan ini ia ingin menegaskan bahwa jiwa itu lebih hakikat daripada badan.

DAFTAR PUSTAKA

Bertens. 1975. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta; Kanisius

Artikel Terkait:

0 comments:

Post a Comment